Hidayatulisnainy's Blog











{Januari 4, 2010}   sebaris tentang gender..

A. Pengertian dan Perbedaan Antara Gender dan Seks.
Istilah gender harus dibedakan dengan istilah seks. Ann Oakley, ahli sosiologi Inggris merupakan orang yang mula-mula membedakan diantara keduanya. Secara bahasa, kata gender berasal dari bahasa Inggris yang berarti jenis kelamin. Sebagaimana yang dikutip oleh Mufidah Ch. dalam Womens’ Studies Encyclopedia, dijelaskan bahwa gender adalah suatu konsep yang dikonstruksi secara sosial dan kultural terkait dengan peran, perilaku, mentalitas, dan karakter emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat. Sedangkan Hilary M. Lips, mengartikan gender sebagai harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan.
Sedangkan seks adalah pembagian jenis kelamin yang ditentukan secara biologis dan melekat pada jenis kelamin tertentu. Misalnya, laki-laki yang memilki jakun, memproduksi sperma, sedangkan perempuan memiliki alat reproduksi seperti rahim, saluran-saluran untuk melahirkan, haid, dan menyusui yang sudah tidak dapat dirubah lagi kedudukan dan fungsinya karena bersifat permanen sebagai ketentuan kodrati dari Tuhan.
Gender adalah konsep hubungan sosial yang membedakan (memilah atau memisahkan) fungsi dan peran antara laki-laki dan wanita. Pembedaan itu tidak ditentukan karena perbedaan bioligis atau kodrati, melainkan berdasarkan menurut kedudukan, fungsi, dan peranan masing-masing dalam berbagai bidang kehidupan dan pembangunan.
Gender sebagai perbedaan antara laki-laki dan wanita berdasarkan sosial contruction yang tercermin dalam kehidupan sosial yang berawal dari keluarga. Perempuan disosialisasi dan diasuh secara berbeda dengan laki-laki. Hal ini pula yang menunjukkan adanya sosial expectation (ekspektasi sosial) yang berbeda terhadap anak perempuan dengan anak laki-laki (Morris,1989). Sejak dini anak perempuan diajari untuk bertindak lemah lembut, pasif, dan bukan pengambil keputusan.
Sebaliknya anak laki-laki diajari menjadi aktif, agresif, mandiri, dominan, dan sebagai pengambil keputusan. Dalam kontrol sosial pun, kontrol sosial terhadap perempuan lebih ketat ketimbang dengan laki-laki. Karakteristik tersebut terinternalisasi begitu kuat sehingga dianggap sebagai sesuatu yang bersifat taken for granted dan membawa implikasi luas yang mencerminkan posisi perempuan yang lebih subordinat sedangkan laki-laki yang lebih superior.
Karakteristik yang mengarah pada tindakan berkonotasi keras dan agresif itupun dilekatkan pada laki-laki, mereka diberi peluang menjadi kelompok penguasa publik sedangkan perempuan di sektor domestik. Hal ini membuktikan adanya gender role (peran gender) yang berbeda diantara mereka.
Untuk Indonesia, konsep gender equality tidak cukup diterjemahkan dengan persamaan hak dan kewajiban antara laki-laki dan wanita di segala bidang pembangunan dan kehidupan masyarakat. Begitu pula dengan konsep women in development belum cukup bila hanya diartikan dengan terintegrasinya peranan wanita dalam semua bidang pembangunan bangsa.



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
%d blogger menyukai ini: